was successfully added to your cart.

Langsa, Aceh Timur. 3/11/2018. Aceh Forest Xplorer 2018 telah berlangsung dari tanggal 31 oktober hingga 3 november yang lalu. Kegiatan offroad adventure yang kelima ini diikuti oleh sekitar 80 kendaraan berpenggerak empat roda dan sekitar 300an peserta dari berbagai daerah di sekitar Kota Langsa seperti Bukittinggi, Medan, Mandailing Natal, Kisaran, Asahan, Binjai, Tapanuli Selatan, Bireuen, Takengon, Bener Meriah, Meulaboh, Banda Aceh dan peserta dari Kota Langsa itu sendiri. Gelaran Aceh Forest Xplorer 2018 atau yang lebih populer AFX 2018 ini juga menjadi ajang promosi wisata Kota Langsa khususnya wisata petualangan menjelajahi wilayah belantara di sekitar hutan Aceh Timur yang memang masih sangat lebat.

Bagi para peserta AFX2018, kesempatan ini juga dijadikan ajang tukar informasi, pengalaman dan yang paling penting adalah silahturahmi bagi sesama penggemar olah raga petualangan berkendaraan penggerak empat roda. Seperti yang di ungkapkan oleh Haji Ri asal Bukittinggi.”Jauh-jauh kita datang bukan hanya untuk mencicipi jalur teman-teman offroader Aceh Bang, tetapi jauh dari itu semua adalah rasa kebersamaan yang telah kami bina selama ini”. Jalur hutan yang masih perawan menjadi lintasan tersendiri. Banyak peserta yang terseok-seok dijalur ini setelah sehari sebelumnya hanya menikmati jalur jalan tanah rata tetapi memiliki tanjakan terjal dan turunan tajam. Disini seleksi dihari pertama sudah berlaku. Dimana beberapa kendaraan peserta sudah mendapatkan masalah hingga akhirnya terlambat tiba di camping ground.

Pagi dihari selanjutnya menjadi lebih seru dan menantang. Tanjakkan terjal dan turunan curam yang jalurnya ditumbuhi ilalang yang tingginya melebihi kendaraan peserta menjadi satu pengalaman berpetualang lebih eksotis. Masuk semakin dalam opstakel cerukan menjadi santapan para peserta AFX2018. Ada yang menikmati dengan menceburkan kendaraannya, walau pelan dan dibantu winch berusaha keluar dari opstakel tersebut. Ada yang bahu-membahu membuat jembatan, agar dapat berbakti bagi masyarakat setempat untuk menggunakan jembatan tersebut setelah event ini berlalu.

Tanjakkan dengan ilalang lebat menjadi kesan bahwa hutan tersebut belum tersentuh oleh kendaraan penggerak empat roda. Leader di depan dengan personilnya terpaksa merambah perlahan-lahan untuk mendapatkan jarak pandang yang leluasa, sehingga kendaraan dapat mnerayap aman menuju target selanjutnya. Terus merayap untuk tetap mencapai target yang ditentukan setelah ilalang dan ranting pohon dirapihkan.

Simpang Tiga ditengah ilalang lebat menjadi batas dalam AFX2018. Karena ditempat itu waktu telah di tentukan, “Tepat Pukul 12.00 jalur kearah kiri atau jalur utama akan ditutup dan para peserta harus melewati jalur kanan atau jalur alternative. Jadi buat para peserta yang telah sampai di Simpang Tiga sebelum jam 12.00 silahkan masuk ke jalur utama yang tentunya dengan kondisi kendaraan dan fisik peserta tidak ada masalah. Selanjutnya buat peserta lainnya silahkan ikuti leader untuk menuju bace camp selanjutnya”. suara leader Bang Ipay terdengar dalam radio komunikasi.

Jalur sudah terbagi dua, ada jalur utama dan jalur alternative. Pembuatan dua jalur ini menjadi penting saat batas waktu menjadi kendala. Ada beberapa peserta yang komplain bahwa jalur alternative terlalu mudah, biasa-biasa saja, tidak perlu menggunakan winching  dan lain-lain. Namun panitia dan leader punya tanggung jawab secara profesional pada event. Tak mudah menentukan putusan untuk 80 kendaraan peserta agar dapat melewati jalur utama yang tingkat kesulitannya lebih tinggi. Ekstrim atau bukan ekstrim pada jalur bukanlah target bagi event-event offroad adventure, karena ekstrim bisa saja terjadi saat kita bermain dialam yang memang benar-benar mengajarkan kita untuk dapat mengalahkan emosi, ego pada diri kita sendiri.

Jadi apakah ekstrim offroad menurut kalian?