was successfully added to your cart.

Give your website a premium touchup with these free WordPress themes using responsive design, seo friendly designs www.bigtheme.net/wordpress

Kamar Kerja Menjelang Malam

By April 9, 2011 Story No Comments

Ah… nyamuk banyak sekali malam ini, apa karena aku belum mandi? Ngga la yau ! yang jelas udara malam ini memnag begitu panas, gerah orang betawi bilang. Mau pasang Ac di ruang kerja ngga tega, karena kasian sama bumi yang sudah mengeluh, mengeluh dalam hati betapa beratnya menahan sinar matahari yang langsung menampar kulitnya. Ku buka jendela ruang kerjaku lebar-lebar siapa tahu ada sedikit harapan membuang rasa panas udara malam ini. Hm… angin sejuk selintas menghampiriku, betapa nikmatnya masih dapat merasakan kesejukan alami walau terkadang diringi oleh beberapa ekor nyamuk yang tak tau diri.

Berdiri di depan jendela kamar, sebatang rokok menemaniku, sambil melirik kerumah tetangga, seperti biasa tetangga di sebelah rumah pasti sudah tiarap semua
mungkin kelelahan karena setiap hari harus rela bergelut dengan keruwetan jalan ibukota tuk mencari sesuap harapan agar dapat bertahan hidup. Pergi pagi-pagi sekali pulang tengah malam, ya tengah malam dimana embun selalu menyambutnya setiap hari.

Ku dengarkan suara jangkrik, sepertinya jangkrik kecil yang sedang tumbuh dewasa. Suaranya malu-malu tuk menemaniku semakin dalam ku tertegun semakin hilang suara jangkrik itu, mungkin dia tahu keberdaanku di depan jendela yang sedang menikmati suaranya, atau dia tahu karena aku tak mengeluarakan sepeserpun tuk membayar suara merdunya?.

Satu nyamuk sudah ku pukul mati, sedikit senang karena sudah dapat membunuh malam ini, yah walau seekor nyamuk saja atau bakal dua ? tiga? Atau empat? Yang jelas kaki kiriku sudah merasakan gatal bekas gigitanya, “ah… ini gara-gara aku serius mendengarkan dendang nyanyian jangkrik malam ini”, gumamku dalam hati.

Ku lanjutkan kesibukanku malam ini, kali ini ku coba tuk menonton sinetron, maklum jarang-jarang nyempetin waktu di depan tipi walau hampir setiap hari berada dirumah. Hehehe maklum lagi senang-senangnya mengamati artis-artis muda cantik yang menjual dirinya dalam kepopuleran duniawi sambil merauk rupiah sebanyak-banyaknya tanpa malu-malu dengan modal akting yang pas-pasan, terkesan di paksakan yah… memang harus dipaksakan karena kalau tidak bagaimana bisa menjadi artis?

Sambil sesekali menggaruk kaki kiri yang telah di gigit nyamuk tadi, kunikmati saja sajian sinetron malam ini, dari title sebagai pembuka ku baca nama-nama para pemain serta para pembuatnya. Hahaha sepertinya sutradara sinetron ini aku kenal baik dulu pada saat kami masih kuliah, bahkan kami satu rumah walau beda kamar. Apa iya temanku yang dulu idealis yang katanya ngga mau bikin sinetron, sekarang malah terdampar dalam dunia klise sinetron? Teman yang dulu mencela teman-teman seangkatannya yang dapat JOB bikin sinetron, teman yang dulu bangga dengan Steven Spielberg, teman yang dulu bangga dengan Garin Nugroho, teman yang dulu ruang kamarnya penuh dengan poster-poster film layar lebar terhebat di jamannya kini harus terdampar dalam industri sinetron? Ah nasib atau apakah namanya, atau karena kebutuhan hidup? yang pasti aku masih terus befikir kenapa temanku tadi rela membuang semangat yang menggelegar tuk menjadi seorang sutradara film layar lebar hebat, seorang teman yang memiliki semangat film yang luar biasa, seorang teman yang memiliki pikiran luas tentang layar lebar malah tenggelam kedalam buaian sinetron made in India lokal.

Plok! satu lagi ku pukul nyamuk hingga mati yang ternyata sudah menggigitku dari tadi dengan banyaknya darah dalam perutnya sehingga dia tak bisa melepaskan diri dari kejaran dua telapak tanganku. Huamm, malam makin larut, samar samar Tony Q menemani dalam alunan reggae. Ya, biar malam yang semakin sejuk ini lebih terasa seperti di Ujung Genteng. Hmmm sejuknya angin pantai membuat pikiran terasa merdeka dari rutinitas.

Tony Q hanya bisa membantu membawa pikiranku kepantai tetapi tak bisa membawa mataku tetap terbuka. Sepertinya aku harus meninggalkanmu malam nan sunyi, aku harus merebahkan badanku agar esok pagi aku dapat bersanding dengan mu kembali. Terima kasih malam kau sudah memberi banyak aku kesempatan dan membuka mataku tuk melihat sinetron tadi walau ceritanya hanya sebuah cerita kacangan yang terpenting adalah sutradaranya teman lama yang dulu pernah dekat walau sekarang sudah terasa jauh. “Kasian deh lu”, hiburku menjelang mata ini terpejam.