was successfully added to your cart.

Perjalanan satu jam terpanggang matahari tepat di garis edarnya dengan naik perahu bermesin 20 PK di Sungai Embaloh, plus terpeleset di atas batuan tajam dan licin di anak sungai tak bernama itu mendapatkan ganjarannya. Itulah dia. Air terlontar dari ketinggian tak kurang dari lima belas meter dan jatuh mengikuti tegakan tebing batu. Uap air mengambang di udara, melayang dari buih-buih yang memecah putih.

Dari ketinggian, sinar matahari menerobos dari pucuk-pucuk pepohonan. Jatuh miring dari matahari yang sudah mulai lingsir ke barat dan membuat titik-titik air berkilauan. Air dingin yang jatuh membentuk sebuah kolam di dasar sungai segera turun terus ke alur; menjadikannya sebuah tempat yang nyaman untuk berendam.

Mungkin suasana seperti inilah yang menginspirasi pujangga bertutur cerita tentang Putri Junjung Buih yang muncul dari riak air berbuih di pertapaan manusia Lembu Mangkurat, manusia setengah dewa mangkubumi Kerajaan Negara Dipa di hulu sungai Amandit di Pegunungan Meratus jauh di selatan sana; sebagaimana tuturan orang Kutai di percabangan Sungai Mahakam di Tepian Batu tentang Putri Junjung Buyah dan Pangeran Aji Batara Dewa Sakti.

Kami memandang air terjun ini tanpa suara. Menikmati gemuruhnya dan cipratan airnya. Arif, petugas Taman Nasional Betung Kerihun, kemudian mengeluarkan kamera video yang dibungkus plastik tebal dan mulai mengambil gambar. Saya harus mengelap lensa kamera tempur ini dulu, sebuah low end yang sederhana, Canon 400D, sebelum memuaskan hati memotret. Bondho, dokumenter resmi Indonesia 4X4 Expedition: Hulu Kapuas-Border Kalimantan Barat, mencoba naik meniti bebatuan dan membuat panning shot dari sana.

Bang Frans, anggota tertua rombongan ini, seperti menemukan kembali masa kecilnya, berenang-renang di kolam dan membiarkan air terjun itu memdera punggungnya yang kokoh. Agus Purwanto, orang Jawa yang mengabdi di Telkom Pekanbaru, Riau, duduk di atas batu, memandang air terjun dan sungainya. Agus memotret dengan Blackberry-nya.

Cipto? Teknisi Thuraya, layanan sambungan telepon satelit itu, lagi-lagi memperlihatkan kecanggihan perangkat asal Abu Dhabi yang diageni kantornya. Berdiri di samping gemuruh air terjun dan dipotret Bondho dari bawah ia terlihat berbicara lewat telepon itu dengan seseorang di pulau yang lain.

Sebuah air terjun tanpa nama dari anak sungai yang juga tak bernama, satu jam dari Kampung Sadap ke hulu Sungai Embaloh. Bahkan Gimbau pun, panglima perang Iban di rumah betang Sadap tidak memiliki catatan atau ingatan tentang nama air terjun itu. “Sebut saja air terjun Sadap-Embaloh,” katanya tersenyum. Saya tak repot mencarinya karena ia duduk di samping saya, memperhatikan apa yang saya kerjakan dengan komputer pangku ini, dan bertanya serius tentang rambut gimbal saya sambil minta izin untuk memegangnya.

Di peta, tempat-tempat ini terlihat dekat, khususnya dari Putussibau, ibu negeri Kapuas Hulu, sebuah kabupaten yang dikelilingi Pegunungan Muller-Schwanner di timur dan selatannya, dan oleh hutan lebat diantara Gunung Betung dan Gunung Kerihun di Pegunungan Kapuas Hulu di utaranya. Di antara puncak-puncak itu kedua negara serumpun tapi tak selalu akur berbagi sempadan. Bagian selatan milik NKRI, sebuah Harga Mati dan tak bisa ditawar lagi, sementara di sebelah utara empunya Malaysia Boleh, yang sering dilaporkan boleh saja menggeser patok-patok perbatasan hingga berkilo-kilometer ke selatan. “Tak harus ke air terjun tadi, ke Putussibau saja perlu perjuangan tersendiri,” kata Ahmad Yani, kepala Bidang Taman Nasional Betung-Kerihun yang berkantor di Mataso, Sadap, kecamatan Benua Martinus, Kabupaten Kapuas Hulu.

Harap maklum, saat ini penerbangan 45 menit dari Bandara Supadio, Pontianak ke Bandara Pangsuma di Putussibau sedang libur entah sampai kapan. Perjalanan darat memakan waktu tak kurang dari 18 jam dengan bus. Hanya turis dengan model backpacker (yang serba irit) yang mau mampir ke Sadap bila keadannya terus begini. “Kami sudah membuat jalan setapak rintisan di atas tebing sana, agar kelak pengunjung tidak lagi harus menyusur sungai seperti kita,” kata Arif. Ada usul untuk membuat juga semacam jembatan kecil titian dari muara sungai kecil itu—dimana dibuatkan dermaga kecil juga—ke air terjun.

Menurut Arif, jalan rintisan itu bersambung dengan jalur pemantau satwa sehingga bila mau, pengunjung dapat trekking, berjalan kaki kembali ke Sadap. “Atau turun ke sungai setelah separo jalan dan dijemput lagi dengan perahu,” terangnya. Perkiraan Arif, trekking dari air terjun itu ke Sadap tak kurang dari 2-3 jam atau sekitar 15 km.

Selain itu, Arif menawarkan kegiatan yang sedikit menantang: body rafting. Sungai Embaloh yang tak terlalu deras memungkinkan itu dilakukan dengan aman, apalagi semua orang sudah mengenakan lifejacket atau pelampung penyelamat. “Kedengarannya asyik,” kata saya. Bukankah kita tinggal menghanyutkan diri sambil menjaga kepala tetap di atas air. Tapi tak ada tanggapan dari yang lain.

Pukul dua siang, perut keroncongan memberi peringatan. Kami kembali menyusuri sungai tak bernama ke muaranya di Sungai Embaloh. Bila tadi saat datang menuju air terjun terasa jauh, turun menghilir sungai tak lebih dari 15 menit. Jaraknya dari muara sungai ke air terjun ternyata hanya 300 meter. Tiga ratus meter yang luar biasa, yang diwarnai isapan lintah, lutut terbelah gigir batu tajam, terperosok lumpur liat yang dalam, dan kemudian, sandal gunung yang putus. Body rafting pun tak jadi. Untuk sebuah lansekap air yang menjatuhkan diri dari alurnya di ketinggian dan suasana mistis yang dibawanya, impaslah semuanya.