was successfully added to your cart.

Give your website a premium touchup with these free WordPress themes using responsive design, seo friendly designs www.bigtheme.net/wordpress

Menapak dermaga Tanjung Pura, setelah ku tinggalkan hotel di Pontianak. “Hari ini aku akan ke Meliau”. Bisik ku dalam hati, setelah perjalanan panjang menyusuri Kalimantan Barat hampir selama dua minggu bersama rekan-rekan Indonesia 4X4 Expedition. Nampak dalam bayangan pikiranku akan keindahan meliau, namun tak ada cerita yang banyak kudapat tentangnya, tak ada yang tahu apa yang ada disana, sehingga semua keterbatasan itu membuatku lebih dalam menggugah keingin tahuanku dan rasa penasaranku.Kusambangi dermaga Tanjung Pura dengan segenap semangat tuk melintasi sungai kapuas. “Meliau bang”, tanyaku pada lelaki penjual tiket yang sepertinya adalah salah satu karyawan perusahaan transportasi air di pinggiran sungai kapuas.” Siapa nama bang?’, tanyanya pada ku. “Bondho”, jawabku setengah bingung. Kenapa harus menanyakan nama ? dalam hati ku bertanya-tanya dan sementara dalam tiket tak ada resi asuransi.

Perjalanan direncanakan pada pukul 13.00 dan kenyataannya adalah tepat pukul 13.30 wib kutinggalkan dermaga Tanjung Pura. “Hm..sama aja, semua ngga ada yang tepat”, gumamku. Sambil menyenangkan hati ku coba hampiri speedboad yang sedari bersandar.

Kurebahkan badan ku pada kursi yang besarnya persis sebesar pantatku sambil menikmati segarnya sebotol air pegunungan, kubayangkan akan indahnya perjalanan menyusuri sungai kapuas dengan speedboad. “Bang tolong digeser lagi yah..biasa kalo lagi rame kita buat empat baris”, teriak pemuda penjual tiket tadi. “ Ha? duduk aja sudah susah kok malah mau di tambah penumpang lagi sih?”, tanya ku. “Iya bang, maaf kami hanya jalan satu kali dalam sehari jadi kasian sama penumpang yang lain kalo ngga bisa ke angkut”, balas si pemuda. “ Iya bang mari silahkan digeser “, ajak seorang ibu di sampingku. Seperti terhipnotis akupun menggeser pantatku.

Speedboad agak sedikit bergoyang, maklum para penumpang mulai memadatinya, aku dapat posisi dipinggir tepat di belakang supir. “Lumayan aku bisa leluasa menikmati perjalananku”, bisik ku dalam hati.

Mesin dihidupkan, asap tebal menyelimuti speedboad dan rasanya semua penumpang telah berada dalam speedboad termasuk sang supir dan asistennya. Speedboad pun berangkat tepat tengah hari lewat sedikit.

Perjalanan mulai membelah sungai kapuas, kadang kencang kadang pelan sesuai dengan hantaman ombak yang dilewati. Perlahan ku tinggalkan dermaga Tanjung Pura dan perlahan pula ku tinggalkan Pontianak.

Sambil menghisap sebatang rokok yang memang telah ku siapkan, ku rasakan bercak-bercak air sungai kapuas yang muncratannya mulai sedikit membasahi ku. Disepanjang perjalanan ku perhatikan detik demi detik sesuatu yang ada di pesisirnya. Dalam bayanganku “Kalimantan pasti dasyat akan hutan rimba nya”.

Waktu terus berjalan seperti arus kapuas yang juga mengalir. Spee boad menerjang derasnya arus, dengan keahlian sang supir semua halangan yang ada didepan dapat terlewati.” Baru ke Meliau ya bang?”, tanya ibu disebelahku. “Iya bu”, Jawabku. “Ibu mau kemana?”, tanya ku kembali. “Aku juga mau ke Maliau”, jawabnya kembali. Tanya jawab standar sepertinya sebagai basa-basi antara penumpang untuk mengisi waktu dalam perjalanan yang bakal di tempuh selama lima jam lagi.

Matahari merekahkan suasana, dengan warna kuning kejingganya dan bentangan pelangi menyambutku tiba di Meliau. “Hmmm…kota kecil yang indah”, dalam bathinku berbisik. Tak ada sambutan apalagi tepuk tangan. Kedatanganku adalah lanjutan dari petualangan melintasi Kalimantan Barat setelah dua minggu melakukan perjalanan bersama teman-teman Indonesia 4X4 Expedition Hulu kapuas Border yang telah kami selesaikan beberapa hari yang lalu.

Meliau mungkin tidak terkenal seperti kota lainnya di Kalimantan Barat, Meliau adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sanggau. Namun Meliau menyimpan sebuah catatan tentang sebuah kerajaan dan sebuah perlawanan seorang pejuang nasional Kalimantan yaitu Pang Suma. Panglima yang gugur mempertahankan harga diri di perlakukan semena-mena oleh tentara Jepang pada masa perjuangan dan makamnya diletak tepat di tengah kota Meliau.

Malam menjelang, tak ada jejeran pedagang makanan malam, tak ada lantunan musik pinggir jalan. Dengan sepotong roti kukus isi markisa kunikmati cemilan kecil bersama dengan kopi Kalimantan di sebuah kedai kopi. Malam ini aku telah bersandar dalam peraduan kota kecil Meliau.

Pagi membangunkanku, tak ada kokok ayam jantan, tak ada bising kendaraan yang memekakan telinga. Aku bangun karena udara di kamarku terasa semakin panas.

Meliau kota kecil ternyata banyak menyimpan harapan dengan rimbunya dedaunan kelapa sawit, berkilaunya sungai Kapuas yang mengelilingnya. Pagi itu ku langkahkan kaki dengan mencari tahu apa yang menggugahku untuk bersandar dalam aroma kebersamaan dengan masyarakatnya.

“Selamat pagi bu”, salamku pada pedagang bubur ayam. “Selamat pagi juga pak”, sapanya. “Boleh aku pesan satu porsi bu?”, pintaku. Tanpa banyak bicara satu porsi bubur ayam Meliau telah hadir di hadapanku dan tanpa aba-aba ku santap sebagai makan pagi ku hari ini.

“Hmmm bubur ayam spesial”, catatku dalam pikiranku dan tak akan ku dapat di tempat lain.

Kulanjutkan menyusuri Meliau, jejeran toko menghiasi sepanjang jalan pusat kota yang masyarakatnya mulai melakukan aktifitas. Sebagian besar adalah pedagang, pegawai negeri dan pekerja perkebunan kelapa sawit. Tampak hiruk pikuk pagi ini, jejeran kendaraan bak tebuka begitu banyak terparkir di sepanjang jalan depan pasar. “Ada apa gerangan?”, aku semakin penasaran.

“Hari ini adalah hari gajian om”, celoteh seorang pedagang handphone kepada ku ketika ku tanya padanya. “Biasanyanya kalo hari gajian hampir semua karyawan kelapa sawit turun ke kota om”, lanjutnya padaku. “Mereka akan membeli beberapa kebutuhan bulanan seperti beras, minyak, sabun, obat dan lain-lain lah om termasuk pulsa hehehe”, si pedagang handphone itu semakin bersemangat bercerita kepada ku. Pantas saja hiruk pikuk itu sejenak melupakan kepenatan masyarakat Meliau menjadi suka cita.

Hari semakin siang, satu persatu truk besar itu mulai meninggalkan pasar setelah penumpangnya membeli kebutuhan bulanan mereka. Kota mulai kembali sepi, toko-tokopun merapatkan pintunya. Terlihat para lelaki tua berkumpul di kedai-kedai kopi, sepertinya mereka juga sedang menikmati hidup, sambil bersendau gurau mereka menanti senja.

Hari ini aku disambut gelap malam, rumah-rumah hanya diterangi pijar lampu seadanya dan hanya beberapa rumah besar yang menggunakan genset. “Hmmm…mati lampu”, bisikku. “Keadaan seperti ini hampir setiap hari pak”, ungkap pedagang kopi kepada ku, “dan biasanya bisa sampai tengah malam baru nyala lagi”, dia mempertegas. Aku teringat masa kecilku ketika mati lampu di Jakarta dulu, aku malah senang karena aku bisa keluar rumah meninggalkan tugasku belajar malam dan kunikmati kegelapan dengan bermain bersama teman-temanku.

Di Meliau tak ada anak yang bermain diluar rumah ketika mati lampu, aku tak tau ada apa gerangan yang dilakukan. Mungkin mereka semua belajar, mungkin juga mereka semua menimati peraduan, hmmm secangkir kopi ku sruput habis dalam kegelapan Meliau malam ini.

Hamparan hijau kelapa sawit meneduhkanku hari ini aku berada dalam dekapannya. Bersama seorang teman perjalananaku ku hari ini adalah mengunjingi tempat wisata yang ada di Meliau yang tentunya juga tak ada di buku-buku wisata apalagi di brosur-brosur agen perjalanan.

Perjalananku dimulai ke makam Gusti Lekar dan istrinya Ratu Utin Periok. Dengan menggunakan speedboad perjalanan kami mulai. Makam yang terlihat tidak terawat adalah makam bekas raja Meliau. Tak ada informasi yang dapat menjelaskan kapan raja ini bertahta, tak ada penjelasan bagaimana raja ini berkuasa, tak ada cerita walau sekedar dongeng pun tentang sosok dari raja Meliau itu. Aku hanya mengamati bangunan sederhana tak ada harapan apapun selain hanya untuk menikmati pemandangan alamnya yang tak bakal ku dapat di daerah manapun di bumi nusantara ini.

Hitunganku 80 anak tangga, temanku 81 dan sang supir speedboad 79 anak tangga. Tidak ada jumlah hitungan yang sama, itulah ke unikan anak tangga menuju makam Gusti Lekar saat kaki kami menapakan satu persatu menuju makamya diatas sebuah bukit.

Perjalanan berlanjut kesebuah tumpukan alang-alang, yah hanya sebuah gundukan tanah yang sudah tertutup alang-alang tetapi memiliki sebuah cerita perjuangan. Posisinya yang strategis yang dapat melihat seluruh arah sungai kapuas dan berada pada ketinggian, nampaknya sebagai tempat pemantauan kedatangan musuh, sayangnya tak ada yang dapat menjelaskan perjuangan itu dilakukan oleh siapa.

Matahari semakin berada tepat diatas kepala ku, saat aku melintasi sungai kapuas melanjutkan perjalanan ke batu pengantin. Sebuah legenda yang ada di Meliau namun tak banyak diketahui. Dari sungai kapuas membelah sungai Meliau menuju desa Bandong, sambil bertanya pada masyarakat setempat akhirnya kutemukan batu pengantin itu setelah diantar seorang pemuda desa setempat.

Menuju batu pengantin tidaklah mudah, aku harus berjalan selama satu jam melintasi hutan rakyat yang telah di tumbuhi belukar. Sambil ku sabit-sabit dengan kayu yang memang telah disiapkan, menyeberangi anak sungai yang berjebatakan sebatang kayu, menanjak dan menurun walau tidak terjal tetapi membuat badanku basah oleh keringat, maklum cuaca saat itu sedang panas sekali.

Dalam belukar yang harus di sabit, ku temukan batu pengantin itu. “Hmmm bagaimana orang tahu kalo legenda ini tidak di rawat”, kataku pada temanku sambil mengamini.

Namun yang menarik dari batu pengantin adalah sebuah cerita tentang keserakahan manusia. Ulasannya seperti ini : Pada sebuah pesta pernikahan yang di lakukan secara besar-besaran dan sangat meriah yang di lakukan selama tujuh hari tujuh malam di tempat itu, para tamu berdatangan dari segala penjuru, semua jenis masakan di hidangkan, tak ada yang tak kebagian. Namun dalam beberapa hari datanglah seorang bocah yang meminta makan kepada tuan rumah yang sedang mengadakan pesta itu, karena berlimpah si bocah pun diberi sepiring makanan namun dalam sekejap di lahapnya habis dan minta kembali dan di berikan sepiring makanan lagi dan si bocah pun masih meminta kembali dan akhirnya di tuan rumah pengantin memberikan makanan berupa segumpalan makanan yang di sebutkan sebagai hati babi, karena keras akhirnya makanan itu di bawa pulang ke rumah. Sesampainya dirumah si nenek bocah itu melihat cucunya sedang menikmati makanan tersebut dan alangkah terkejutnya si nenek melihat cucunya makan dan ternyata yang dimakan adalah segumpal getah karet yang telah di gulung-gulung berbentuk hati, sambil mengambil makan itu dan marah si nenek mengucapkan mantra-mantra dari mulutnya dan dalam sekejap datanglah anjing-anjing hutan yang berbentuk mahkluk aneh yang kemudian menyerbu ke tempat pesta dengan gemuruh dan petir anjing-anjing siluman itu meluluhlantahkan suasana pesta dan hujan meratakannya, dalam beberapa saat setelah gemuruh dan hujan reda tampaklah suasana pesta berubah menjadi tumpukan batu yang dapat dilihat sebagai symbol sebuah pesta pernikahan dimana dalam lokasi terlihat sepasang batu pengantin, batu pelaminan dan batu-batu lainnya yang menguatkan suasana pesta kala itu.

Hmmm…petualangan di Meliau hari ini cukup menghibur hatiku, sambil menikmati sebuah kelapa muda yang baru saja di petik di pinggir sungai meliau kami bercerita, berbagi rasa tentang sejarah yang pernah ada walau hanya dari mulut kemulut namun dapat di ceritakan kepada anak cucu dalam sebuah rangkuman sejarah yang patut untuk di teliti bagi anak-anak meliau yang peduli dengan kotanya.

Leave a Reply