was successfully added to your cart.

Give your website a premium touchup with these free WordPress themes using responsive design, seo friendly designs www.bigtheme.net/wordpress
Takdir Di Area Rongsokan Parung

Takdir Di Area Rongsokan Parung

By April 9, 2011 Story No Comments

Area rongsokan Parung yang terkenal itu, beberapa mobil tua tampak murung. Sepertinya mereka sedang menunggu takdir tuk di ekseskusi mati. Dengan garang para pekerja melakukan tugasnya mencabut nyawa mereka satu persatu.

Terlihat para pekerja berjalan sambil membawa peralatan kerja tuk memulai pekerjaan rutinnya, sang VW Merah semakin sedih karena hari ini adalah waktu untuk mengeksekusinya dan beberapa menit kemudian tanpa pikir panjang sang pekerja mulai mencabuti satu persatu bagian tubuhnya.

“Aduh…”, kap mesinnya mulai dilepas paksa.
“Aduh…”, begitu juga pintu kanan dan kiri.
“Aduh…”, teriak sang VW Merah ketika kabel-kabelnya mulai di cabuti.
“Aduh…”, sambil menahan sakit sang VW Merah itu menahan.

Secara paksa sang pekerja melepaskannya. Memejamkan mata sang VW Merah itu pasrah bagian tubuhnya di preteli satu persatu.

Tampak dari kejauhan sang Juragan bertolak pinggang memerintahkan para pekerja tuk lebih cepat bekerja.
“Cong, cepatlah kau habiskan VW Merah itu”, teriak sang juragan.
“Baik Gan”, balas si pekerja.
“Nanti sore aku akan membawa semua besi itu ke pabrik”, teriak lagi sang Juragan.
“Iya Gan”, agak sedikit kesal si pekerja membalas.
“Huh! Kenapa sih harus buru-buru begini”, gumam sang pekerja.

“Huuuu huuuu huuuu, umurku hanya tinggal hari ini”, dalam hati VW Merah itu meratapi takdirnya.
“ Tuhan ampuni aku”, doa VW Merah.
“ Ampuni atas semua keslahanku”, sambil meminta VW Merah itu berharap.

Sementara di sisi sang VW Merah itu sekarat terlihat dua Land Rover, satu pick up short dan satunya lagi station wagon long. Mereka terlihat meneteskan air mata menahan sedih. Menunggu-nunggu keajaiban datang, mereka tetap berharap.

Tak terasa waktu terasa cepat hari ini, sang VW Merah itu sudah tak bernyawa, Bodynya sudah terlepas dari sasis. Sementara mesin dan girbok telah terlihat terpisah.

“Kawan, kasihan ya sang VW Merah itu”, bisik landy long.
“Aku jadi sedih”, lanjutnya.
“Aku juga”, balas landy short.
“Hanya tinggal menunggu waktu saja kapan giliran kita”, lanjut landy long.
“Iya kawan, aku juga ngga tau kapan giliran kita?” sambil sedikit bertanya landy short menjawab.
“Aku sih berharap ada orang yang masih mau memiliharaku”, landy short berharap
“Aku sudah pesimis kawan”, balas landy Long.
“Kamu tau kenapa aku di bawa ke tempat ini?” cerita landy long.
“Kenapa kawan?”, tanya landy short.

Tiba-tiba terdengar suara truk besar datang, sepertinya akan membawa tubuh VW Merah yang telah tercerai berai itu. Maklum rencana sang Juragan hari ini harus menjual potongan tubuh VW Merah itu begitu juga dengan tubuh kendaraan lain sebelumnya yang telah duluan di pisahkan.

Supir truk memarkirkan truknya dekat dengan dua landy itu, dengan cetakan sang supir menghampiri Juragan rongsokan itu.

“Selamat sore Juragan”, sapa sang supir.
“Selamat sore juga Pak Supir”, balas Juragan.
“Gimana sudah siap semua?”, tanya Pak Supir.
“Sudah! disana”, balas sang Juragan.
“Biar anak-anak saja nanti yang memasukan ke trukmu” ungkap sang Juragan.
“Baik Juragan, kalau begitu saya menunggu”, balas Pak Supir.

Sambil bertolak pinggang sang Juragan memerintahkan anak buahnya tuk bekerja cepat memasukan rongsokan kedalam truk besar tadi dan tak terasa sang surya telah tenggelam.

Suara ayam jantan bekokok dari kandang depan rumah sang Juragan, Matahari pagi menyambut perlahan, cerahnya tidak secerah kemarin. Awan hitam menyelimutinya.

“Selamat pagi landy Short”, sapa landy long.
“Selamat pagi juga landy Long”, jawab landy short.
“Sepertinya pagi ini akan hujan ya”, tanya landy long.
“Aku berrahap begitu”, jawab landy short
“Kalau hujan kan para pekerja itu ngga bisa bekerja”, timpal landy short.
“Iya ya…, mudah-mudahan saja hujan deh”, landy long juga berharap.

Air jatuh dari langit, rintiknya mulai terdengar. Tidak terlalu deras.

“Akhirnya hujan datang juga ya”, bisik landy short.
“Iya seperti yang kita harapkan?” Tanya landy long.
“Iya, dan mudah-mudahan hujannya seharian ya?” landy short berharap.
“Mudah-mudahan saja”, balas landy long.
“O iya landy long, kenapa kamu sampai ketempat ini?”, Tanya landy short
“Dan katanya kamu akan menceritakannya hari ini?” Tanya landy short lagi.
“O iya hampir aku lupa, terima kasih landy short kamu mengingatkanku”, jawab landy long.

Hujan semakin deras begitu pula landy long bercerita satu persatu perjalanan hidupnya.

Sambil menerawang jauh landy long mulai bercerita.

“Awalnya pada tahun 1978 aku dipelihara oleh majikannu yang baik hati, aku begitu di rawat, setiap minggu aku selalu di mandikannya selalu diganti oli jika waktunya tiba, pokoknya waktu itu aku termasuk barang yang berharga baginya”, landy long memulai bercerita.
“Semua terasa indah, setiap hari aku membawa majikan ku tuk mengantarnya kekantor, setiap minggu pula aku selalu mengantar tuk berwisata bersama keluarganya, baik kekota-kota besar maupun ke kampung-kampung bahkan kehutan-hutan, semua aku lakukan tanpa pamrih”, lanjut landy long.
“Waktu itu tubuhku begitu segar, begitu kuat, semua partku masih baru, maklum waktu itu aku baru keluar dari pabrik, jadi kemanapun majikanku menggunakannya aku siap mengatarkannya”, masih menerawang landy long bercerita.
“Waktu terus berlalu, hingga akhirnya majikan mendapatkan posisi yang lebih baik di kantornnya, semua dapat di belinya termasuk satu mobil lagi, tentunya mobil yang lebih muda”, sedih landy long bercerita.

Dalam keadaan hujan datang seorang pengendara motor, langsung ia menuju rumah sang Juragan. Tampak dia langsung berbasa basi, sepertinya sudah akrab dangan sang Juragan dan sepertinya pula ia sedang mencari sesuatu.

“Sebentar landy short, sepertinya orang itu menunjuk kearah kita”, bisik landy long.
“Iya aku melihatnya dari tadi”, landy short membalas.
“Sepertinya dia mencari sesuatu pada kita”, lanjut landy long.
“Kayaknya begitu”, sahut landy short.
“Cari apa ya orang itu?” dalam hati landy long bertanya cemas.

Tiba-tiba datang anak buah sang juragan dengan membawa kunci-kunci tuk melepas bagian tubuh sang landy, dan sepertinya dia mencari part dari tubuh landy long itu.

“Aduh…aduh…aduh”, landy long terlihat kesakitan.
“Sepertinya dia akan melepaskan gardan belakangmu landy long?” sahut landy short
“Aduh…aduh..aduh”, landy long kesakitan ketika anak buah mulai melapaskan baut-baut pengikat pada gardannya.
“Landy short sepertinya aku sudah tidak punya kaki lagi”, ungkap landy long.
“Bertahanlah landy long”, balas landy short.
“Iya landy short”, jawab landy long.

Seketika itu pula gardan landy long sudah terlepas dan berpindah tempat. Terlihat pengendara motor memberikan uang kepada sang Juragan menandai transaksi penjualan disepakati.

Landy long telah terlihat pincang, kaki belakangnya sudah berpindah tempat, entah kemana yang jelas dia tak tahu.

“Kasian kamu landy long”, sapa landy short.
“Bertahanlah landy long, siapa tau umur kita masih panjang”, landy short menghiburnya.
“Iya landy Short, aku juga berharap begitu”, jawab landy long.

Hujan telah reda malam pun datang gelap meyelimuti suasana rongsokan Parung. Tampak sang Juragan sedang santai di kursi depan rumahnya dengan di temani secangkir kopi hangat. Rupanya sang Juragan sedang menanti sesorang, entah siapa lagi yang akan datang tuk membeli.

Datang dua orang yang terlihat dekil, sepertinya mereka montir. Entah montir apa yang jelas mereka terlihat terburu-buru dan setelah berbasa-basi dengan sang Juragan mereka mendekati landy long.

“Yang ini kan pak?”, Tanya sang asistan montir.
“Iya yang panjang itu”, balas sang montir.
“Oke pak”, sang asisten montir mulai bekerja.

Kap mesin mulai di lepas, spakbor kiri kanan juga ikut di lepas. Tampak landy long terlihat bersedih.

“Apa lagi yang akan meraka ambil dariku?, landy long bergumam.
“Kenapa mereka tidak mencari di toko saja sih?”, landy long semakin berguman
“Aduh…Aduh…”,landy long berteriak kesakitan.
“Huuuu huuu huuu…”, landy long mulai menangis.
“Jangan menangis landy long, aku jadi ikut sedih nih”, ungkap landy short.
“Bagaimana aku tidak menangis landy short? Lihatlah cara mereka menghempaskanku”, jawab landy long.
“Huuuu…huuu….huuu”, landy long semakin menangis.

Sementara landy short tidak dapat berbuat apa-apa, landy short hanya bisa bersedih, para montir itu mulai melepas mesin dan girbok landy long itu.

Terlepas semua sudah mesin dan girbok landy long, tampak montir dan asistennya merasa senang telah meyelesaikan tugas mereka dan mereka pun membawa mesin dan girbok itu pulang.
“Gimana sudah selesai?” Tanya sang Juragan.
“Sudah Pak”, Jawab Sang Montir.
“Kalua begitu langsung saya bawa pulang ya”, sahut sang montir.
“Baiklah, tolong kasih tau bossmu kalo perlu part landy aku masih ada satu lagi”, rayu sang Juragan.
“Baik Pak nanti aku kasih tau boss ku”, jawab sang montir.
“Kalo begitu kami langsung pulang saja Pak”, sang montir memohon.
“Baiklah Pak salam buat bossmu ya”, sambil tersenyum sang Juragan berkata pada sang montir.

Sementara itu landy short terlihat sangat sedih, dia melihat landy long sudah tak berdaya
Entah apa lagi yang akan di lakukan orang-orang pada mereka.

“Se.. se…la..mat pagi landy short”, sapa landy long.
“Selamat pagi juga landy long”, balas landy short menyapa.
“Sebelum aku tutup usia aku akan melanjutkan ceritaku kemarin landy short, maukah kamu mendengarkanya?” memohon landy long pada landy short.
“Mau mau landy long dengan senang hati”, balas landy short.
“Sampai dimana ya cerita kemarin?”, landy long coba mengingat.
“O ya sampai majikan mu membeli mobil baru yang lebih muda dari mu”, jawab landy short.

Landy longpun melanjutkan ceritanya.

“Iya ketika majikanku memiliki mobil baru aku mulai terlupakan, sehari-hari aku hanya di tutup dengan kain pelindung walau kain penutup itu baru namun hatiku merasa sedih, sepertinya majikan ku akan melupakanku, majikanku sudah tak pernah menghidupkanku bahkan sudah tak pernah menyentuhku padahal aku pernah mengantar istrinya kerumah sakit tuk melahirkan kedua putranya”, Landy long mulai bercerita.
“Yah… mungkin ini nasib kita ya?”, landy long menerawang.
“Setelah kita berjasa kita dicampakan begitu saja”, lanjut landy long.

“Lalu kenapa kamu sampai ketempat ini landy long?” Tanya landy short.
“O iya, setelah sekian puluh tahun aku diam suatu ketika majikanku menghidupkanku kembali, aku bahagia namun juga gelisah, majikanku akan membawaku ke Cipta Gelar, Itu tuh desa adat di gunung Halimun, kamu tahu kan?” tanya landy long.
“Ya aku tahu, aku sudah tiga kali kesana”, jawab landy long
“Lalu kamu gelisah kenapa landy long”, tanya landy short.
“Ya… aku gelisah, aku gelisah kalau aku akan merepotkan majikanku”, jawab landy long.
“Karena aku merasa kemampuan ku telah banyak berkurang landy short”, ungkap landy long lagi.
“Dan menjadi kenyataan pada saat majikan ku membawaku ke desa Cipta Gelar, Nafas ku sudah tak setangguh dulu, nafasku terasa sesak, kakiku tak seteggar dulu, kakiku terasa lemas hampir di semua badanku berkeringat hingga aku mengecewakan majikanku landy short”, landy long masih bercerita
“Sepanjang jalan majikanku selalu memarahiku, mencacimakiku, aku semakin sedih namun aku tetap berusaha sekuat tenagaku agar kami dapat kembali kerumah”, ungkap landy long.
“Dengan terseok-seok tetap kupaksa hingga kami dapat kembali kerumah majikan, namun apa daya tubuhku semakin bergetar, tak kuat rasanya aku berlari”, kenang landy long.
“Dan sesampainya dirumah, majikanku tak lagi mau mencuci ku, aku di campakan di pinggir jalan depan rumah majikanku”, memelas landy long.
“Hingga rupaku terlihat busuk.

Sambil mengeluarkan air mata landy long terus bercerita, sementara landy short terhanyut dalam kesedihan dari cerita landy long.

Hari semakin sore ketika seorang pemuda datang. Dia langusng menuju ke landy short, dia amati bagian satu persatu sepertinya dia sedang mencari part dan dalam hati landy short berharap.

“Tuhan… Biarkanlan pemuda ini membawaku, bukan membawaku terpecah belah tetapi membawaku lengkap”, minta landy short..

Terlihat sang pemuda bernegosiasi dengan sang Juragan Sang Juragan sepertinya terlihat mempertahankan harga.

“Gimana Pak dikasih ngga?’ tanya sang pemuda.
“Tambahin sedikit deh”, jawab sang Juragan.
“Aduh uangnya ngga ada lagi pak”, balas sang pemuda.

Dalam hati Landy short berharap agar sang Juragan melepasnya pada sang pemuda itu.

“Tambahin lagi deh”, agak sedikit memaksa sang Juragan meminta.
“Kalau duitnya ada sih dah timbahin Pak”, jawab sang pemuda.
“Udah begini saja”, Jawab sang pemuda.
“Saya bayar cash sekarang dan besok mobilnya saya ambil”, rayu sang pemuda.

Setelah berfikir panjang akhrinya sang Juragan menyetujui tawaran sang pemuda.
Sambil berharap cemas landy short menanti transaksi hari ini.